Select Menu

SaintekOase

Nasional

Alam Islami

Analisa & Opini

Sejarah

Muslimah

Fiqh Dakwah

Saintek

Video Pilihan

Pkssiak.org, Jakarta - Indonesia memiliki kekayaan alam melimpah dalam urusan bebatuan. Mulai dari intan yang berharga mahal hingga batu akik yang sedang naik pamor, berserak di bumi Indonesia.

Ahli geologi dan juga kolektor batu mulia Ir Sujatmiko yang sudah puluhan tahun menjelajah dan meneliti batu-batu di Indonesia memiliki sejumlah daftar jenis batu yang memiliki kualitas bagus.

“Di Indonesia nomor satu jelas intan, itu ada di bumi Kalimantan. Tambangnya ada di Martapura, ada juga di Sintang,” jelas Sujatmiko, Kamis (28/5/2015).

Menurut dia, Indonesia tak memiliki tambang batu seperti sapphire atau merah delima dan lainnya. Tapi jenis batu lainnya selain intan juga ada di Indonesia dan memiliki daya jual tinggi.

“Ada batu yang unik, namanya batuan oval atau Kalimaya. Ini hanya ada di Banten, batu ini memiliki warna-warna menarik yang memberikan ilusi. Ini batu yang unik dan juga mahal,” urai dia.

Batu kalimaya ini ditambang sejak tahun 1934, dahulu berserakan di sungai, tapi kini mesti menggali ke dalam tanah.

“Di dalam batu ini dilihat lewat miksrokopis itu ada gelembung kecil bundar tersusun rapi, di antara bundaran itu ada pori-porinya dan ada bagian yang kosong. Bagian kosong itu diisi air, kemudian bila terkena sinar matahari akan dibiaskan dan menghasilkan refleksi warna,” terang dia.

Sambung bagian 2

Detik

PADANG - KPU sudah memulai tahapan pilkada serentak di Indonesia. Namun, di Sumbar masih ada lima daerah yang belum menandatangani Naskah Perjanjian Hibah Daerah (NPHD) sebagai syarat pencairan dana penyelenggaraan pilkada serentak 9 Desember mendatang.

Lima daerah itu, masuk daftar 13 kabupaten dan kota di Sumbar yang akan melaksanakan pemilihan bupati dan wali kota. Yakni Kota Bukittinggi, Kabupaten Agam, Pessel, Limapuluh Kota dan Tanahdatar.

"Kalau tidak juga ditandatangani hingga 3 Juni nanti, daerah tersebut bisa tidak ikut pilkada serentak tahun ini," ujar Koordinator Divisi Logistik dan Anggaran KPU Sumbar Fikon Dt Sati kepada Padang Ekspres (Riau Pos Group), Rabu (27/5/2015).

Menurut dia, penandatanganan NPHD sangat dibutuhkan sebagai dasar pencairan anggaran pelaksanaan pilkada yang dikelola KPU daerah dan angggaran pengawasan yang dikelola Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Provinsi atau Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) Kabupaten/Kota.

"Mendagri sudah mengeluarkan ancaman bagi kepala daerah yang tidak menandatangani NPHD akan diberi sanksi," kata Fikon. Dijelaskan Fikon, untuk Agam, pemkabnya sudah sepakat untuk menyegerakan penandatanganan NPHD dengan KPU, tapi hingga kemarin belum juga dilakukan.

Lambatnya penandatangan NPHD konsekwensinya terhadap tahapan pilkada, bahkan dapat mengancam pengunduran pilkada di daerah masing-masing. Jika daerah tersebut tidak jadi ikut pilkada, maka dampaknya juga ke pemilihan gubernur Sumbar. Pemprov harus menambah anggaran agar pilgub di lima daerah itu tetap bisa digelar.

"Kalau daerah itu jadi ikut pilkada, anggarannya ditanggung pemerintah setempat, maka pemprov tidak perlu mengeluarkan anggaran menggaji penyelenggara pilgub di sana. Tapi jika tidak, maka anggaran penyelenggara pilgub harus ditanggung pemprov," jelas mantan ketua KPU Agam ini.

Oleh karena itu, KPU Sumbar sudah menyurati pemprov beberapa waktu lalu untuk mendesak bupati dan wali kota menandatangani NPHD. Namun nyatanya hingga kini masih belum ditandatangani.

Komisioner KPU Sumbar lainnya, Mufti Syarfie menyebutkan bahwa anggota KPU di lima daerah itu juga punya tanggung jawab mendesak kepala daerah masing-masing untuk segera menandatangani NPHD.  "Kalau naskah itu tidak juga ditandatangani, maka komisioner KPU kabupaten dan kota itu harus dipertimbangkan lagi untuk bisa terus menjadi komisioner. Tidak bisa menyelesaikan tugas, berarti kelayakan seorang komisioner patut dikaji lagi," tegas Mufti Syafie.

Riaupos

SINGAPURA – Kecelakaan nyaris menimpa penerbangan pesawat Singapore Airlines yang membawa 194 orang penumpang menuju Shanghai, Cina dari Singapura. Peristiwa fatal itu dapat dihindari oleh teknisi dan berhasil mendaratkan pesawat dengan selamat di bandara tujuan.

Terkait itu, maskapai penerbangan Singapore Airlines sedang menyelidiki peristiwa yang baru-baru ini terjadi ketika salah satu pesawatnya kehilangan kendali kedua mesinnya saat sedang melakukan penerbangan.

Pesawat dengan nomor penerbangan SQ836 sedang melakukan perjalanan dari Singapura ke Shanghai, Cina, pada Sabtu (23/5) malam ketika pesawat menghadapi cuaca buruk.

Mesin pesawat Airbus A330-300 berhenti beroperasi, tetapi para pilot dapat kembali menjalankan mesin dan mendarat dengan selamat di bandara tujuan.

Pihak SQ menyatakan pemeriksaan pasca kejadian tidak menemukan ketidakberesan mesin pada pesawat yang saat itu membawa 194 orang.

Maskapai penerbangan Singapura itu memastikan bahwa pesawat sempat harus bergerak turun sampai sekitar 13.000 kaki atau 3,96 kilometer sebelum dapat kembali beroperasi dengan normal, lapor kantor berita AFP.

Pihak pembuat mesin Rolls-Royce dan Airbus sekarang sedang bekerja sama melakukan penyelidikan dengan Singapore Airlines.

Kehilangan kendali pada kedua mesin dipandang jarang terjadi dalam industri penerbangan, tetapi para pilot telah dilatih untuk mengatasi kejadian sejenis ini.

Riaupos

Pkssiak.org,Kabar duka menyelimuti kaum Muslimin kala itu. Anak kesayangan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam sakit. Menjelang ajalnya. Kepada Muslimah cantik, salehah, baik akhlaknya dan cerdas ini, datanglah Asma’ binti ‘Umais untuk menjenguk.

Di tengah kondisi lemahnya, rupanya istri ‘Ali bin Abi Thalib ini memikirkan suatu hal penting yang kini dianggap remeh oleh sebagian kaum Muslimin. Sang Fathimah az-Zahra mengeluhkan kondisinya kelak ketika jasadnya digotong dalam keranda terbuka.

“Sungguh, aku menganggap buruk perlakuan terhadap wanita setelah wafatnya,” ucap Fathimah kepada sahabiyah yang menjenguknya itu. Sebab, “Jasad wanita yang dibungkus hanya ditutupi kain saat digotong di atas keranda terbuka.”

“Sebentar lagi,” lanjutnya mengabarkan, “aku akan meninggal dunia.” Dengan demikian, jika diperlakukan sebagaimana jasad wanita pada umumnya, “Aku malu jika jasadku digotong seperti itu, sebab manusia akan mengetahui panjang dan lebar ukuran tubuhku.”

Saat itu, peti mati belum dikenal dalam Islam. Kemudian, demi menjawab keluhan sahabatnya itu, Asma’ menyampaikan pengalamannya ketika melihat penggunaan peti mati di Ethiopia. “Aku pernah melihat orang Ethiopia menggunakan peti mati untuk menggotong kaum wanita sehingga jasadnya tertutup,” ujarnya menawarkan, “dan aku bisa membuatkannya untukmu.”

Setelah disepakati, Asma’ pun membuatkan replikanya dari batang pohon kurma yang masih basah. Dengan pengalaman, keterampilan, dan cintanya kepada ananda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam ini, Asma’ membuat penutup di atas alas keranda (dijumpai di zaman kita, penutup itu berbentuk setengah lingkaran). Setelah selesai, ia memperlihatkannya kepada Fathimah binti Muhammad.

Melihat hasil kerja sahabatnya itu, Fathimah berdecak kagum, “Alangkah bagus dan indahnya peti ini.” Dengan peti itulah, tulis Dr. Thal’at Muhammad ‘Afifi Salim dalam Diary Kehidupan Shahabiyah, “Dan Fathimah menjadi orang Islam pertama yang digotong dalam peti mati ketika akan dimakamkan.”

Alangkah mulianya mereka yang dipilih oleh Allah Ta’ala. Di sisa umur yang sedikit, pikiran mereka semakin dekat dengan Allah Ta’ala. Bahkan, mereka tak melalaikan hal-hal yang terlihat sederhana di kalangan sebagian kaum Muslimin akhir zaman ini. Yang ada dalam benak suci mereka adalah bagaimana bisa mengakhiri hidup dengan husnul khatimah, dan diperlakukan secara syar’i hingga dimasukkan ke dalam liang kubur.

Kisahikmah

JAKARTA (26/5) – Setelah ditemukan di Kabupaten Bekasi, beras plastik kembali ditemukan di Kota Depok, Jawa Barat, Ahad (24/5) lalu. Bahkan, satu keluarga mengalami keracunan akibat mengonsumsi beras plastik. Menyikapi hal itu, Komisi IV DPR RI dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (FPKS) Andi Akmal Pasluddin, mendorong agar dibentuknya Panitia Khusus (Pansus) tentang beredarnya beras plastik.

"Karena hal ini bukan hal sederhana yang dibayangkan orang. Ini kita dorong supaya hal tersebut menjadi kepedulian semua pihak, Komisi III dengan hukumnya, Komisi VI dengan perdagangannya, sehinga tidak hanya menjadi kepedulian Komisi IV," kata Andi Akmal, saat ditemui di Gedung DPR RI, Selasa (26/5).

Politisi asal Sulawesi Selatan itu menambahkan, seperti ada sebuah design besar yang berbahaya bagi ketahanan pangan.

"Secara ekonomi beras plastik ini harusnya lebih mahal dari beras biasa. Tapi di lapangan ternyata lebih murah. Oleh karena itu, saya kira kepentingannya bukan sekedar kepentingan bisnis, tapi juga ada kepentingan lain yang bisa merusak ketahanan pangan dan merusak kondisi ketenteraman masyarakat," ujarnya.

Menurutnya, ada beberapa faktor yang menyebabkan beredarnya beras plastik. Pertama, lanjut Andi Akmal, bisa dikarenakan adanya mafia yang menginginkan agar Pemerintah melakukan impor beras. Kedua, adanya upaya-upaya politik untuk membuat kegaduhan, sehingga masalah-masalah besar dan penyimpangan-penyimpangan yang ada tidak terangkat.

"Sehingga masyarakat disibukkan dengan isu-isu yang sengaja diciptakan," imbuhnya.

Lebih lanjut Andi Akmal mengemukakan, Komisi IV juga mendesak Pemerintah segera menyelidiki dan menuntaskan masalah beras plastik.

"Agar tidak terjadi perdebatan yang berlarut-larut," pungkasnya.

Pks.or.id