Select Menu

SaintekSIROH

PKS BERKHITMAT

BERITA SIAK

FIQIH

SIROH

Kesehatan

Saintek

Video Pilihan

PKS SIAK, PERAWANG- Untuk Merayakan Milad PKS ke 18 pada tanggal 24 April 2016 di GOR Tualang, DPD PKS Siak mengadakan beberapa kegiatan dalam rangka Berkhitmat dengan masyarakat diantaranya Donor darah, lomba rangking satu untuk tingkat smp dan sma, lomba mewarnai untuk tingkat TK dan SD, kemudian ada juga membuka stand bazar gratis bagi masyarakat, kemudian tidak kalah menariknya nanti DPD PKS Siak mengadakan senam sehat nusantara yang ini juga bentuk peduli kita terhadap kesehatan bagi masyarakat agar kita segar bugar dalam beraktifitas nantinya, selain dapat sehat dan bugar peserta juga akan di bagikn doorprize .

Lanjutnya lagi untuk para peserta yang mengikuti senam nusantara nantinya akan diperoleh kupon dari panitia pelaksana. Dari Panitia pelaksana mengundang dan mengajak unsur masyarakat untuk dapat meramaikan MILAD PKS ke 18.

Pada saat ini panitia pelaksana full activity dalam mempersiapkan acara yang melibatkan semua kader se-Siak. Pada Kamis 21 April 2016 akan diadakan final meeting dalam persiapan MILAD PKS ke18 hal ini disampaikan Ust. Muhammad Soleh, ST selaku Sekretaris Umum DPD PKS SIAK.***

PKS SIAK, Jakarta (14/4) - Tenaga guru honorer semestinya harus dihitung dalam pemetaan Sumber Daya Manusia (SDM). Pasalnya, tenaga honorer yang kemungkinan besarnya ada dalam tiap sistem kepegawaian kerap mengalami berbagai masalah karena tidak menjadi bagian dari sistem kepegawaian.

Hal itu dijelaskan oleh Ketua Bidang Ketenagakerjaan, Petani, dan Nelayan (BPKN) DPP PKS Ledia Hanifa saat dihubungi, Selasa (14/4/2016).

"Semestinya pegawai honorer juga harus dihitung dalam pemetaan SDM. Jika tidak masuk dalam pemetaan dapat mengakibatkan persoalan seperti sekarang ini," ujar Ledia.

Menurutnya, sudah saatnya peta SDM PNS dan honorer dimasukkan kedalam sistem. Setelahnya, guru honorer dapat diupgrade kemampuannya agar sesuai dengan kompetensi.

"Di upgrade kemampuannya, dilakukan assessment terhadap jabatan dan kompetensi pemegang jabatan, juga perlu sistem pembinaan kepegawaian yang komprehensif," paparnya.

Menurutnya, salah satu permasalahan yang muncul bila tenaga honorer tidak dilibatkan dalam peta SDM PNS yang komprehensif dapat menyebabkan pemalsuan data-data demi lolosnya oknum dalam penyeleksian.

"Belum lagi jika ditambah ada yang menyertakan persyaratan palsu yang seolah-olah sudah mengabdi sejak tahun tertentu," pungkas Ledia.

Keterangan Foto: Ketua BPKN DPP PKS Ledia Hanifa

PKS SIAK, DPW Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Provinsi Riau mendukung penuh keputusan DPP PKS terkait Pencopotan Fahri Hamzah.

“Dari tingkat DPW, DPD, hingga DPRa, dan seluruh elemen PKS solid mendukung keputusan DPP terkait masalah Fahri Hamzah,” ungkap Ketua DPW PKS Riau Hendry Munief.

Hendry melanjutkan, soliditas para kader PKS di Riau dalam mendukung ketetapan DPP saat ini menjadi penentu kualitas khidmat kepada masyarakat.

“Para kader PKS saat ini sedang fokus melakukan pelayanan atau berkhidmat kepada masyarakat. Jadi soliditas penting dalam menentukan kualitas pelayanan. Gimana mau melayani dengan baik kalau secara internal sendiri belum kompak?” lanjutnya di Pekanbaru, Kamis (07/04).

“Alhamdulillah, sejauh ini para kader PKS di Riau hingga struktur DPRa satu suara dalam mendukung keputusan DPP. Ini sinyalemen positif dimana kita bisa melanjutkan amanah sebaik mungkin dengan fokus dan terarah,” pungkas pria ramah ini.

Oleh: Wamdi Jihadi

Suatu hari di tahun 2000 Zimbabwe Banking Corporation (Zimbank) mengundi pemenang hadiah utama di tahun tersebut senilai 100.000 dolar Zimbabwe, dan alangkah terkejut pembawa acaranya Fallot Chawawa ketika undian dibuka dan terteralah di sana nama Robert Mugabe, Presiden Zimbabwe. Walaupun pihak bank mengatakan bahwa nama itu diacak dengan seribuan nama lainnya, namun itu semakin memperkuat perkiraan analis bahwa telah terjadi kongkalikong di sana. Demikian ditulis Daron Acemoglu dan James A. Robinson dalam bukunya Why Nations Fail yang diterjemahkan oleh Arif Subianto.

Di samping kekuasaan itu ibarat pisau, ia juga seperti air yang menyelusup ke serendah-rendahnya tempat untuk sekedar pamer kekuatan (show of power). Dan kalau sudah seperti itu tidak ada gerak gerik yang tidak terpantau, tidak ada ruang yang tidak patut diawasinya, bahkan lubang semut sekalipun.

Para penguasa seperti ini kemiskinan dan kebodohan warganya adalah sesuatu yang mesti dipelihara dan dirawat terus menerus, sebab kesejahteraan dan kecerdasan bakal mengancam keberlangsungannya. Dan bagi masyarakat yang sesuap nasi adalah isi kepalanya serta meraba hidupnya dalam bersikap tidaklah memiliki waktu untuk sekedar memikirkan politik.

Para intelektual yang tumbuh di masa ini pun biasanya adalah orang-orang yang berutang budi kepada penguasa, hingga kemampuan dan kecerdasan mereka justeru diberdayakan untuk mengokohkan kekuasaan tersebut. Kalaupun ada yang berani menggeleng dengan keputusan maka cukup disumpal mulutnya.

Sedangkan tokoh agamanya tak jauh berbeda, menegokan ayat-ayat Tuhan dan petuah nabi telah lumrah demi mulusnya jalan si penguasa. Orang seperti Buya Hamka bak jarum di tumpukan jerami yang enteng saja menulis di majalah Panjimas kala itu, Kalau saya diminta menjadi anggota Majelis Ulama saya terima, akan tetapi ketahuilah saya sebagai Ulama tidak dapat dibeli.

Inilah saatnya penguasa melenggang tanpa sandungan, hitam putih kehidupan ada di tangannya. Tidak ada kebenaran kalau dia mengatakan salah dan tidak ada kesalahan kalau dia membenarkan. Semua instrumen pengukuhan kekuasaan jangka panjang diberdayakakan; sejarah dimanipulasi, pendidikan dikebiri dan jabatan didinastikan. Peralihan kekuasaan digulirkan, namun yang ada orang-orang yang lepas dari mulut harimau lantas masuk ke mulut buaya.

Kalau sudah seperti ini banyak orang berjalan tanpa ruh, pekerjaan diselesaikan tanpa semangat, generasi dilahirkan tanpa mimpi, kesenian diciptakan tanpa nilai.

Barangkali tidak banyak yang mengenal nama di atas. Tapi sosok wanita agung ini ada di balik dua perang besar; yang satu nyaris membangkrutkan VOC pada 1746-1755; yang satu lagi nyaris membangkrutkan pemerintahan jajahan Hindia-Belanda pada 1825-1830.

Niken Lara Yuwati, cucu Sultan Bima, Abdul Kahir I itu, lebih masyhur dikenal sebagai Ratu Ageng Tegalreja, permaisuri Sultan Hamengkubuwana I (1755-1792).

Beliau terampil berkuda, ahli menggunakan patrem (keris kecil), jitu dalam memanah, dan tahan mengarungi perjalanan panjang. Pada Perang Giyanti, dia mendampingi gerilya suaminya menempuh medan yang amat berat di bentangan Jawa Tengah hingga Jawa Timur.

Dalam masa prihatin itu, di tengah hutan lereng Gunung Sindoro beliau melahirkan sang putra yang kelak menjadi Sultan Hamengkubuwana II. Beliau pula memimpin bregada prajurit putri, satu-satunya kesatuan yang peragaan perangnya membuat Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels sangat terkesan dalam kunjungannya ke Yogyakarta semasa pemerintahan putranya.

Setelah merasa jalan perjuangan putranya tak segaris dengan almarhum suami tercinta, wanita baja ini memilih mengundurkan diri ke Tegalreja, membuka persawahan makmur dan menampung para ‘ulama serta santri. Diasuh pula olehnya sang buyut yang lahir pada 1785, Bendara Raden Mas Musthahar yang kelak dikenal sebagai Dipanegara. Di bawah bimbingan nenek yang shalihah ini, Dipanegara tumbuh sebagai pangeran santri yang kelak mengobarkan jihad akbar untuk tegaknya agama di Jawa.

Yogyakarta, juga negeri ini, berhutang besar pada seorang srikandi dari Kesultanan Bima, di pulau Sumbawa. Sejarah berulang, dan gerakan mahasiswa serta dakwah di Era Reformasi juga berhutang besar pada ksatria dari Bima yang punya sifat begitu mirip dengan tokoh Bima dalam pewayangan; Abangnda Fahri Hamzah. Kukuh, keras, bicaranya “ngoko”, tanpa basa-basi dan seceplosnya.

Saya hanyalah seorang pelajar SMP yang lugu ketika dengan sangat heroik Bang FH dan Ayahanda Dr. M. Amien Rais berboncengan bertaruh nyawa dalam hari-hari genting reformasi. Dan kisah-kisah di hari itu begitu mengilhami jalan hidup kami para muda, hingga sayapun berada di barisan dakwah di mana Bang FH berada. Bedanya tentu, beliau di penjuru depan sementara saya ada di shaff amat belakang.

Hidup berjama’ah dalam dakwah adalah pilihan untuk mengoptimalkan ‘amal; sebagaimana Ayah saya yang Guru Muhammadiyyah dan Ibu saya yang lekat dengan tradisi keagamaan Nahdlatul ‘Ulama. Dan saya, dengan tetap bernafas dalam atmosfir harum yang dihembuskan oleh Hadhratusy Syaikh Hasyim Asy’ari maupun KH Ahmad Dahlan, mendetakkan pula jantung ini dalam balada Syaikhut Tarbiyah KH Rahmat Abdullah.

Sepanjang perjalanan dalam perhimpunan dakwah ini, Bang FH adalah model bagi kepanglimaan yang gagah, yang bernyali, yang tak gentar resiko, yang tak takut celaan dari orang-orang yang mencela.

Tapi setiap pahlawan punya kisahnya sendiri. Hari-hari ini, Bang FH kebanggaan serta kecintaan kami para muda di barisan ini; sekaligus juga Allah jadikan ujian bagi kejama’ahan kami.

Tapi bukankah seseorang dan suatu kaum memang diuji Allah dengan hal yang amat dijunjung tinggi? Ibrahim, lelaki yang penuh cinta. Maka seluruh hidupnya adalah ujian cinta. Dan dia lulus sebagai ‘Kekasih Ar Rahman’. Maryam, sang perawan suci pengkhidmah Bait Suci, juga diuji dengan soal yang paling mengguncang kehormatan diri. Dan Muhammad ﷺ, lelaki yang menjunjung kejujuran dan kepercayaan, setelah 40 tahun hidup sebagai Al Amin, tiba-tiba wahyu turun lalu dia didustakan.

Tak ada manusia yang sempurna.

Saya melihat kasih nan lembut itu di wajah dzurriyah Rasulillah ﷺ yang mulia, Al Habib Dr. Salim Segaf Al Jufri, MA. Jikapun Bang FH yang akibat ketidaktaatannya pada AD/ART dan keputusan dewan pimpinan sebagaimana termaktub dalam fakta kronologisnya harus berhenti, maka beliau sangat berharap kepada masyarakat dapat dikatakan seperti ucapan ‘Umar tentang pemecatan Khalid sebagai Panglima Utama, “Bukan kemampuan Abu Sulaiman yang aku ragukan, tapi aku mengkhawatirkan hati manusia yang terlalu memujanya.” Agar semua ‘aib terjaga. Agar tak perlu ada luka.

Tapi ada yang berbisik, seakan-akan Ketua Majelis Syura bertindak secara pribadi, memaksa mundur karena kepentingan pribadi. Saya dan hati Bang FH sama-sama tahu, bahwa ini bisikan yang tak dapat dibenarkan.

Saya melihat cinta nan adil itu di wajah Ketua Majelis Tahkim, Dr. Hidayat Nur Wahid. Beliau bersama segenap jajaran lain telah memberi berulangkali kesempatan, pembahasan, dan penghadiran saksi secara tertutup, agar kepada ummat dapat dikatakan seperti ucapan ‘Umar tentang pemecatan Sa’d ibn Abi Waqqash sebagai Gubernur Kufah, “Demi Allah ini bukanlah karena dosa yang dilakukannya, bukan pula karena ada sifat khianat pada dirinya.” Agar tak perlu ada kegaduhan yang melemahkan.

Tapi ada yang berbisik, seakan-akan lembaga ini melawan hukum dan berbuat aniaya, tak berwenang dan hanya akal-akalan seseorang saja. Saya dan hati Bang FH sama-sama tahu, bahwa ini bisikan yang menyesatkan.

Saya melihat hikmah nan sejuk itu ada di wajah Kang Sohibul Iman, Ph.D. Beliau bersama segenap unsur yang dilibatkan telah banyak menyabarkan diri, memberi permakluman, dan ‘udzur meski terjadi beberapa kali, -katakanlah-, ketaktepatan janji. Agar dapat dikatakan sebagaimana ucapan ‘Umar pada Yahudi yang mengadukan Gubernur Mesir ‘Amr ibn Al ‘Ash, “Cukup kauberikan padanya tulang yang kugaris dengan pedang ini, dia pasti akan mengerti.”

Tapi ada yang berbisik bahwa seakan memang sejak awal Bang FH hanya ditumbalkan untuk merapatkan partai dakwah ke rezim penguasa. Saya maupun hati Bang FH sama-sama tahu, bahwa ini bisikan yang jahat.

Tidak boleh ada yang mengingkari jasa-jasa besar seorang Bang FH bagi dakwah dan negeri ini. Tapi bagi kita kader dakwah, kalau pembelaan pada beliau membuat kita merendahkan musyawarah kelembagaan tertinggi yang di dalamnya ada para sesepuh tercinta seperti Habibana Dr. Salim Segaf Al Jufri, Dr. Hidayat Nur Wahid, Kang Sohibul Iman, Ph.D dan berderet nama Masyaikh lain; saya teringat satu kalimat lagi dari Rasulullah ﷺ saat Khalid membantai kaum Juhainah yang ditawarinya menyerah lalu dia didebat oleh ‘Abdurrahman ibn ‘Auf, kemudian Khalid menyerapahinya.

“Jangan kalian mencela sahabatku. Jikapun kalian menginfakkan emas seberat Gunung Uhud, niscaya takkan menyamai satu genggam atau setengah genggam tepung mereka.”

Tapi pedang Allah yang terhunus tetaplah pedang Allah yang terhunus. Tapi Bima tetaplah Bima.

Saya mengajak diri saya ini untuk menghormati semua. Jika Bang FH hendak menempuh jalur hukum, biarlah beliau memperjuangkan apa yang diyakini menjadi haknya. Takkan berkurang hormat kita atas segala sumbangsihnya bagi dakwah ini. Tapi kita kader dakwah yang ada dalam jama’ah ini tahu, cinta tak pernah boleh menghalangi sikap adil, sebagaimana perbedaan sikap takkan menafikan cinta.

“Demi Allah aku bersaksi”, ujar ‘Ammar ibn Yasir yang berperang di sisi Sayyidina ‘Ali sementara Ummul Mukminin ‘Aisyah ada di seberang dalam Perang Jamal, “‘Aisyah adalah istri Rasulullah dan Ibu kita semua di dunia maupun di surga. Hanya saja sekarang Allah sedang menguji kita; apakah padaNya kita taat, atau kepadanya.”

Bang FH, engkau ujian bagi kami di sisi Qiyadah kami, dan kamipun adalah ujian bagimu. Semoga kita semua lulus dengan sempurna. Uhibbuka Fillah.

kader awam lagi biasa,
@salimafillah