Select Menu

Iklan 1080x90

SaintekSIROH

PKS BERKHITMAT

BERITA SIAK

FIQIH

SIROH

Kesehatan

Saintek

Video Pilihan

» » Sumbawa "Bumi Sejuta Sapi"

Sumbawa "Bumi Sejuta Sapi"


By: Fetih Roma Kamis, 01 Mei 2014 0


pkssiak.org - Politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Fahri Hamzah mengatakan mantan Menteri Pertanian Anton Apriantono telah mencanangkan Sumbawa, Nusa Tenggara Barat sebagai "Bumi Sejuta Sapi" (BSS).

"Sejak zaman Pak Anton Apriantono, NTB mendeklarasikan BSS (Bumi sejuta Sapi). Ini adalah bagian dari program pemerintahan SBY untuk swasembada daging," ungkap Fahri pada akun Twitternya @Fahrihamzah, Rabu (30/4).

Kemudian program swasembada itu diteruskan oleh Menteri Pertanian Suswono sampai sekarang.

"Kita tidak perlu membela, lebih baik melihat statistik pemerintah bagaimana program swasembada ini. Sayang sekali swasembada ini gak pernah diungkap dan dihancurkan oleh kasus suap," terang Fahri.

Di tengah kasus suap itulah substansi prestasi menteri dalam mengurangi Import ditutupi. Bahkan dibalik itu ada kampanye hitam seolah Kementrian Pertanian gemar mengimpor.




"Pertama statistik menunjukkan penurunan impor secara ekstrem. Kedua, Kemendaglah yang impor," katanya.

Tapi kasus ini menurut Fahri telah menutup banyak hal. Tapi sudahlah, nasi sudah menjadi bubur.

"Alhamdulillah PKS gagal mereka kubur," ujarnya.

Fahri menjelaskan bahwa dirinya memahami soal keadaan industri peternakan di timur karena merupakan kampung halamannya.

"Selain sapi, khususnya di Sumbawa ada kerbau. Ternak yang semakin langka. Orang kota mungkin gak tau beda kerbau sama sapi. Saya bahkan paham perilaku dan beda tekstur dagingnya. Nah Sumbawa adalah pulau yang populasi kerbaunya masih terhitung padat di dunia," katanya.

Diakui Fahri masalah Kerbau ini memang agak unik karena mereka tergantung kepada sistem LAR, sebuah konsep Lokal. LAR adalah semacam kubang, tapi juga komunitas karena pagi-pagi mereka mencari makan.

Kerbau lebih tergantung kepada air daripada Sapi. Kerbau lebih lamban dari Sapi dan Kerbau dagingnya lebih banyak.

"Tapi sapi lebih produktif sebagai bisnis, reproduksinya cepat. Kerbau lamban makanya lebih mahal," ungkap Fahri.

Menurut pria yang masih menjabat sebagai anggota DPR RI Komisi III ini dan berhasil terpilih kembali sebagai anggota DPR dari Dapil NTB ini, rakyat memang lebih suka pelihara Sapi karena alasan produktifitas tapi Sapi lebih sensitif terhadap penyakit.[dm/pksnongsa.org]


DPD PKS Siak - Download Android App


«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama
0 Comments
Tweets
Komentar