Select Menu

Iklan 1080x90

SaintekSIROH

PKS BERKHITMAT

BERITA SIAK

FIQIH

SIROH

Kesehatan

Saintek

Video Pilihan

» » Prabowo yang Kian Santun dan Jokowi yang Makin Agresif

Prabowo yang Kian Santun dan Jokowi yang Makin Agresif


By: PKS Siak Selasa, 03 Juni 2014 0



pkssiak.org - Ada perubahan pola sikap politik antara dua capres yang bertarung. Capres Prabowo Subianto yang agresif menyerang lawannya kini makin santun, sedangkan Jokowi sebaliknya.

Pada kampanye Pileg lalu, Prabowo Subianto memang gencar menyerang Jokowi. Bahkan beberapa pengamat menyebut serangan Prabowo brutal. Eks Danjen Kopassus itu memang berkali-kali menyindir Jokowi di berbagai kesempatan.

Serangan yang dilancarkan Prabowo di antaranya menyebut Jokowi sebagai capres boneka, pembohong, dan seorang yang ingkar janji. Tak hanya Prabowo, tim pendukung mantan Pangkostrad itu pun ikut menyerang Gubernur DKI itu.

Saat itu, Jokowi menanggapi berbagai serangan yang ditujukan kepadanya dengan kalem. Pria 52 tahun itu meminta kampanye dilakukan dengan saling menghormati lawan dan beradu ide, bukan dengan menyerang secara membabi buta.

Hasil Pileg 2014 seolah menunjukkan strategi agresif Prabowo berhasil. Gerindra duduk di peringkat tiga dengan perolehan suara 11,4%. Sedangkan PDIP, meski jadi pemenang pemilu, namun meleset jauh dari target 27% yang ditetapkan. PDIP hanya meraih 18,65%.

Waktu bergulir, menjelang Pilpres, pola tingkah laku politik keduanya berubah. Prabowo kini jadi lebih santun, sedangkan Jokowi sebaliknya, makin agresif.

Tengok saja, makin dekat ke gelaran Pilpres 2014, Prabowo hampir tak pernah melontarkan serangan lagi untuk Jokowi. Bahkan dalam beberapa pidatonya, Prabowo meminta pendukungnya tak melakukan kampanye hitam dan membalas serangan lawan dengan kebaikan.

"Kalau ada yang sebarkan black campaign, tak perlu dibalas dengan black campaign. Balas dengan kebaikan. Semakin jahat, balas dengan kebaikan. Tunjukkan bahwa kita satria pandawa supaya masyarakat lihat siapa kurawa," kata Prabowo di acara Silaturahmi Guu Besar, Ulama, Tokoh, dan Relawan Jabar di Gedung Sentral Bisnis Koperasi, Jl. Soekarno Hatta, Bandung, Rabu (28/5) lalu.

Tim Prabowo memang masih agresif menyerang Jokowi, namun Prabowo sendiri sudah lebih kalem. Bahkan, Prabowo yang selama ini tampak memiliki dendam ke Megawati terkait perjanjian Batutulis, menunjukkan sikap hormat untuk Ketum PDIP itu.


Di acara pengundian nomor urut capres cawapres di KPU, tak hanya mengulurkan tangan untuk bersalaman, Prabowo memberi hormat militer untuk Megawati. Dia juga menyalami, merangkul dan mengajak Jokowi berbincang dengan hangat. Tak tampak gurat-gurat dendam di wajahnya. Prabowo yang akhir-akhir ini tampil lebih santai dan sering melontarkan kelakar berbincang seperti tak pernah ada masalah dengan Gubernur DKI itu.

Prabowo yang tampil lebih kalem disambut Jokowi yang makin agresif. Eks Wali Kota Solo ini keluar lebih menyerang pasca Pileg 2014.

Seolah ingin menangkis semua serangan yang dialamatkan padanya, Jokowi mulai menjawab satu persatu isu negatif yang ditujukan untuknya. Salah satu yang mencolok adalah cara Jokowi menjawab ke-Islamannya, yang sempat dijadikan komoditi black campaign.

Jokowi menegaskan dirinya sudah dua kali haji. Begitu juga dengan keluarganya. Jokowi memberi jawaban ke-Islamannya tak perlu diragukan.

Gaya pidato ayah tiga anak itu juga berubah. Jokowi kini mengawali pidatonya dengan shalawat. Selain itu, pidatonya lebih lama, tak lagi terlalu singkat.

Jokowi juga lebih agresif menyerang lawan politiknya. Beberapa kali Jokowi menyindir soal parpol yang minta jatah menteri, yang diyakini ditujukan untuk parpol-parpol yang merapat ke Prabowo-Hatta. Sindiran ini dia lontarkan beberapa kali dan menjadi materi 'wajib' pidatonya di depan relawan.

Dia juga menyindir soal jabatan menteri utama yang dijanjikan Prabowo untuk Ketum Golkar Aburizal Bakrie. "Masa baru ketemu minta wapres, minta menteri, nggak usah. Apalagi minta menteri utama," kata Jokowi saat berkunjung ke markas Slank di Gang Potlot, Selasa (27/5) lalu.

Tak hanya itu, Jokowi juga menyindir soal gaya busana lawan politiknya. Dia menyebut kubu Prabowo-Hatta meniru gaya berpakaiannya dengan berpakaian kemeja putih. Kubu Prabowo-Hatta sudah menepis anggapan meniru ini.

Agresivitas Jokowi juga terlihat dalam hal mempromosikan diri. Salah satu contohnya adalah saat dia mengajak untuk memilih nomor dua dalam pidato setelah mengambil nomor urut di KPU. Pidato itu kemudian berbuntut panjang karena dianggap kampanye sebelum waktunya. Kubu Prabowo-Hatta melaporkan pidato itu ke Bawaslu.

Soal agresivitasnya ini, Jokowi menyatakan memang ingin lebih agresif. Jokowi ingin memperlihatkan perbedaan antara dirinya dengan kubu lawan.

"Harus agresif! Supaya publik bisa melihat bedanya," di Bandara Juanda, Surabaya, Jawa Timur, Kamis (29/5) lalu.

Terlihat ada perubahan strategi di dua kubu yang berseberangan. Manakah yang lebih efektif? Kita lihat hasilnya pada Pilpres 9 Juli 2014.*

Semoga hasil Pilpres Happy Ending... sama-sama senang, Prabowo RI-1 dan Jokowi tetap Gubernur DKI :)


*sumber: http://news.detik.com/pemilu2014/read/2014/06/03/061438/2597882/1562/1/prabowo-yang-kian-santun-dan-jokowi-yang-makin-agresif


:: PKS PIYUNGAN


DPD PKS Siak - Download Android App


«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama
0 Comments
Tweets
Komentar