Select Menu

Iklan 1080x90

SaintekSIROH

PKS BERKHIDMAT UNTUK RAKYAT

BERITA SIAK

FIQIH

SIROH

Kesehatan

Saintek

Video Pilihan

» » » Mengabdi pada Indonesia tidak harus jadi Presiden" | Surat Terbuka untuk Prabowo

Mengabdi pada Indonesia tidak harus jadi Presiden" | Surat Terbuka untuk Prabowo


By: admin Rabu, 16 Juli 2014 0


pkssiak.org - Oleh Gol A Gong

Mas Prabowo yang terhormat, mohon maaf, saya lancang menulis surat terbuka ini. Ini surat dari seorang suami dan ayah dari 4 anak, di kampung halaman. Inti dari surat saya ini adalah “persoalan mengabdi pada Indonesia tidak harus jadi presiden”.  Jokowi – JK, timses dan pendukungnya boleh membaca juga, karena surat ini sifatnya terbuka. Dan Anda boleh berbeda pendapat dengan saya. Yang penting, semua demi negeri Indonesia yang kita cintai ini aman dan damai.

Mas Prabowo yang terhormat, saya sudah membacai surat-surat para public figure itu, yang ditujukan kepada Anda. Bahkan saya sangat terkejut juga, ketika membaca surat dari Seno Gumira Ajidarma yang hanya menulis: Mas Bowo yang baik, dengarlah hati nurani Anda, salam, Seno Gumira Ajidarma. Ada banyak surat yang ditulis untuk Anda. Paling menarik saya baca adalah 2 surat yang lain; dari Riri Reza dan Clara Ng, Misi penting dari surat-surat para pendukung Jokowi – JK itu seragam, yaitu berupa ajakan kepada Anda untuk mengakui kekalahan dan bersikap ksatria sebagai (mantan) prajurit, karena hasil quick count dari 7 lembaga survey memenangkan Jokowi. Saya selalu teringat quote dari Yovie Widianto, musisi Bandung, “Menang rendah hati, kalah besar hati.” Saya tahu quote itu diunjukan kepada Anda, karena Yovie pendukung Jokowi. Psywar di media social ini sangat luar biasa.

Saya berdomisili di kampung. Akses ke Jakarta hanya lewat internet, yang kebenarannya sangat sulit saya terima. Simpang siur. Kadang berupa sampah. Saya rasa – semua orang yang tinggal di kampung – harus pandai benar saat mengunyah setiap informasi dari Jakarta; Koran, majalah, atau TV. Apalagi ketika saya membaca pernyataan Goenawan Mohammad, tokoh pers nasional, “Pers boleh tidak netral.” Kita tahu, Majalah Tempo dan Koran Tempo milik GM secara terbuka mendukung kubu Jokowi. Begitu juga Group Jawa Pos dengan jejaring “Radar” di seantero negeri, semua berada di kubu Jokowi – JK. Metro TV juga di kubu Jokowi. Kemudian MNC Group (RCTI, Global TV, dan MNC TV) dan TV One serta ANTV di pihak Anda.

Mas Prabowo yang terhormat. Sudahkah membacai surat-surat mereka, yang 100% pro-Jokowi? Saya betul-betul bodoh saat mencoba memahami isi surat mereka. Ternyata mereka sangat tahu, bahwa Anda sudah kalah dan Jokowi jadi pemenangnya hanya gara-gara hasil quick count dari 7 lembaga survey kredibel itu. Saya tidak tahu kalau Anda – Hatta kalah. Apakah lembaga-lembaga survey itu memang sungguh-sungguh mengusung ilmu pengetahuan? Saya tidak mengerti. Atau apakah ketujuh lembaca survey itu dibiayai Jokowi – JK? Saya juga tidak paham. Padahal KPU belum mengumumkan secara resmi.

Mereka memaksa Anda untuk mengakui kekalahan dan mengakui kemenangan Jokowi. Anda sedang disudutkan dan dicecar, agar mengaku kalah dan bersifat ksatria. Sedangkan dari timses Jokowi juga menyudutkan Anda dengan pilihan buah simalakama: Jika Anda menang berarti Anda sudah curang. Jika KPU mengumumkan Anda menang 22 Juli nanti, maka seluruh pendukung Jokowi akan turun ke jalan. Mereka betul-betul memosisikan Anda sebagai tokoh jahat di dalam Pilpres 2014 ini. Saya pikir, Anda sangat istimewa dalam hal ini di mata mereka.

Saya merasa, yang harus bersikap ksatria adalah hanya Anda yang (mantan) militer dan yang boleh menuduh curang atau turun ke jalan adalah Jokowi, yang disimbolkan sebagai “rakyat”. Anda harus ksatria karena prajurit, Jokowi boleh tidak ksatria karena rakyat jelata. Anda pernah mengumumkan berkali-kali dengan lantang, “Saya akan menghormati keputusan KPU.” Sedangkan Jokowi berkali-kali mengingatkan, “Jika saya kalah berarti dicurangi.”

Tapi Mas Prabowo, pertanyaan saya kepada Anda adalah, “Jika Anda menang dan kubu Jokowi tidak menerima dan melakukan kegaduhan atau massa di akar rumputnya mengamuk, apa yang akan Anda lakukan?”

Mas Prabowo, saya mengusulkan kepada Anda dan Hatta, sekarang tetaplah bersabar, menahan diri. Sebagai prajurit, emosi Anda pasti sudah teruji. Biarkan saja Jokowi – JK dan para pendukungnya merayakan kemenangan, Anda dan Hatta Rajasa serta pendukung Anda bersabar. Nanti, jika KPU pada 22 Juli mengumumkan Anda kalah, saya akan memegang jnji Anda, akan menghormati keputusan KPU. Tapi jika KPU memutuskan Anda – Hatta sebagai pemenang dan kubu Jokowi – JK mengamuk serta membuat keonaran di mana-mana, sebagai prajurit dan ksatria sejati, Anda mengalah saja.

Ya, mengalah di saat menang, bukankah itu sebuah kejayaan? Berikan kemenangan Anda dan Hatta Rajasa kepada Jokowi – JK demi bangsa dan Negara yang Anda cintai ini aman dan tetram. Demi saya sebagai orang kampung, yang pusing 7 keliling melihat prilaku politisi di Jakarta. Biarlah sejarah yang mencatat, bahwa Anda – Hatta memang ksatria, seperti yang ditulis di surat-surat terbuka itu. Anda berbuat dan berbhakti kepada Negara Indonesia yang Anda cintai, bisa dengan cara lain. Mengabdi kepada bangsa dan Negara tidak mesti jadi presiden.Itu hanya 5 tahun sekali. Insya Allah, saya tetap pengagum Anda, sampai kapan pun. Tinta emas akan menuliskan kejayaan pribadi Anda. Dan saya juga siap menerima kekalahan.

Akhir kata, Mas Prabowo. Anda pasti tahu apa yang harus Anda lakukan di saat kalah dan menang. Surat terbuka dari saya ini hanya himbauan. Boleh diabaikan. Anda tentu sudah banyak makan asam-garam kehidupan. Dan Anda lebih tahu peta politik dunia ketimbang saya yang bodoh ini. Kalau pun Anda kalah, Anda tetap pemenang di hati saya. Anda pasti tahu, jika kemenangan itu harus diperjuangkan dan itu benar, perjuangkanlah!

Ah, mari dengan sabar menunggu pengumuman dari KPU 22 Juli nanti…

*sumber: http://rumahdunia.com/isi/surat-terbuka-untuk-prabowo/


DPD PKS Siak - Download Android App


«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama
0 Comments
Tweets
Komentar