Select Menu

Iklan 1080x90

SaintekSIROH

PKS BERKHITMAT

BERITA SIAK

FIQIH

SIROH

Kesehatan

Saintek

Video Pilihan

» » Fenomena banyaknya pendaki dadakan korban film

Fenomena banyaknya pendaki dadakan korban film


By: PKS Siak Senin, 25 Mei 2015 0

Pkssiak.org, Kegiatan mendaki gunung tak lagi dianggap sebagai aktivitas yang membuang-buang waktu. Menjelajah alam bebas sekarang bukan hanya menjadi monopoli organisasi atau kelompok pecinta alam saja. Meraih puncak-puncak gunung kini sudah dinikmati oleh hampir seluruh lapisan masyarakat. Dari mulai anak-anak, remaja, bahkan sesepuh pun ikut merasakan sensasi berdiri ribuan meter di atas permukaan laut.

Pada bulan Desember 2012 lalu, sebuah film layar lebar yang menyajikan keindahan panorama alam pegunungan dirilis. Film tersebut disinyalir menjadi awal dari berubahnya pandangan masyarakat tentang kegiatan mendaki gunung. Rasanya tak aneh juga jika seorang kreator mengutamakan kenyamanan mata yang menonton film itu dengan menampilkan keindahan-keindahannya saja.

Berdasarkan informasi yang dihimpun merdeka.com, banyak penggiat-penggiat alam yang menyayangkan nilai-nilai yang sebetulnya perlu diperhatikan dalam pendakian tidak disajikan dalam film ini. Misalnya memerhatikan kebersihan lingkungan, memperlihatkan bagaimanakah pakaian yang dikenakan ketika mendaki gunung, serta personal and team equipment yang harus dibawa ketika mendaki gunung.

Bila diperhatikan dengan seksama, logistik yang dibawa oleh para pendaki dalam film itu sangat jauh dari kenyataannya. Tas-nya yang terlihat ringan, gear atau peralatan, termasuk pakaian yang dikenakan pun rasanya tak cukup memberi pembelajaran yang cukup untuk penonton yang menjadi pendaki dadakan.

Film ini mengundang banyak sekali komentar miring dari para penggiat alam bebas. Contohnya make-up yang pemeran wanitanya gunakan ketika mendaki. Dalam aktivitas pendakian sesungguhnya, ini tidak perlu diperhatikan. Namun, sekali lagi, namanya juga film. Kalau film tidak dikemas dengan cara seperti itu, siapa yang mau menonton?
Kendati begitu, bukankah lebih baik natural dan apa adanya saja?

Well, karena rilisnya film itu, banyak pendaki dadakan yang menyerbu gunung-gunung di Indonesia, terutama di daratan Jawa. Sayangnya, modal mereka hanya ingin berada di atas awan atau ingin melihat pemandangan yang indah-indah saja. Inilah yang kini menjadi pro kontra di kalangan masyarakat, terutama para penggiat gunung betulan.

Sejak Desember 2012, berdasarkan data yang merdeka.com dapatkan dari Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Sukabumi, Jawa Barat, setiap akhir pekan, penggiat alam yang mendaki Gunung Gede Pangrango mencapai angka 600 orang lebih. Ini membuktikan, bahwa efek positif dari film tersebut memang benar-benar ada.

Ketua Bidang IV, Pusat Informasi Dokumentasi dan Eksternal Dewan Pengurus Wanadri, Guntur menuturkan, bahwa dari film yang ditonton oleh masyarakat tersebut terdapat efek positif dan juga negatif yang perlu diperhatikan.

"Positifnya, saya pribadi mensyukuri ternyata olahraga kegiatan alam ini dapat diterima masyarakat luas. Ini kan membuktikan bahwa kegiatan ini juga positif," ungkap Guntur kepada merdeka.com.

Namun, Guntur menyayangkan efek negatif yang dihasilkan dari banyaknya pendaki dadakan di mana mereka biasanya hanya ingin melihat pemandangan dan menikmati enaknya saja tanpa memerhatikan lingkungan dan tata tertib.

"Biasanya teman-teman yang melakukan pendakian hanya melihat enaknya saja, tanpa mempedulikan hal-hal lain yang harusnya lebih diperhatikan," tutur Guntur saat ditemui di Sekretariat Wanadri, Jalan Aceh, Bandung, Sabtu (23/5)

Merdeka



DPD PKS Siak - Download Android App


«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama
0 Comments
Tweets
Komentar

Tidak ada komentar

Leave a Reply

Komentar sehat anda..