Select Menu

Iklan 1080x90

SaintekSIROH

PKS BERKHITMAT

BERITA SIAK

FIQIH

SIROH

Kesehatan

Saintek

Video Pilihan

» » Beginilah Akhir Hayat Orang-orang Saleh

Beginilah Akhir Hayat Orang-orang Saleh


By: PKS Siak Rabu, 10 Juni 2015 0

PKS SIAK, Mari mendoakan mereka dengan tulus. Semoga Allah Ta’ala menerima amal kebaikannya dan mengampuni dosa-dosanya, serta memberikan kita kekuatan untuk senantiasa mencontohnya dalam setiap jenak kehidupan. Merekalah generasi terbaik yang hidupnya mulia dan matinya tergolong sebagai syuhada’ di jalan-Nya.

Imam al-Junaid diriwayatkan terus menerus membaca al-Qur’an hingga akhir hayatnya. Orang-orang pun berkata kepadanya, “Kasihanilah dirimu.” Maknanya, istirahatlah dulu, agar segera sehat. Baru lanjutkan membaca al-Qur’an. Namun, beliau justru menjawab, “Sekarang, lembaran amalku akan ditutup.”

Sejenak, kita mesti bertanya; mengapa saat ini kita jarang membaca Kalam Allah Ta’ala itu? Padahal, usia masih muda, harapan hidup masih tinggi, semangat juga senantiasa bergelora? Apakah menunggu menjelang ajal dalam keadaan lemah dan payah, baru kemudian berupaya membaca al-Qur’an?

Dalam riwayat lain disebutkan, di akhir hayatnya, Imam Ibnu Taimiyah yang menulis Majmu’ Fatawa senantiasa membaca surat al-Qamar [54] ayat 54-55, “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu di dalam taman-taman dan sungai-sungai, di tempat yang disenangi di sisi Tuhan Yang Berkuasa.”

Apa yang mereka lakukan bukanlah amal serta merta. Hal itu terjadi lantaran kebiasaan yang senantiasa mereka lakukan saat sehatnya dalam kurun yang amat panjang. Amalan-amalan itu pun menjadi karakter dan terdapat kekurangan saat urung menjalankannya.

Al-Aswad bin Yazid, sebagaimana dikisahkan oleh ‘al-Qamah bin Martsad, ia senantiasa menangis menjelang ajalnya. “Mengapa kau bersedih?” tanya orang-orang. “Bagaimana aku tidak bersedih?” baliknya sampaikan tanya kepada orang-orang yang hadir.

“Demi Allah,” terangnya sampaikan alasan yang membuatnya bersedih, “andaikan kalian datang membawa ampunan dari Allah Ta’ala kepadaku, aku tetap akan merasa malu kepada-Nya. Seperti malunya seseorang kepada orang lain karena ia melakukan kesalahan kepada orang tersebut, meski orang itu telah memberikan maafnya.”

Padahal, sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Muflih al-Maqdisi dalam Agar Kita Tidak Terpedaya Setan, “Al-Aswad bin Yazid ini senantiasa mengerjakan shalat Tahajjud (Qiyamullail) dan telah berhaji sebanyak delapan puluh kali selama hidupnya.”

Nampaknya, kita perlu malu semalu-malunya. Beliau yang telah berhaji sebanyak itu saja mengalami sedih yang amat mendalam menjelang wafatnya. Bagaimana dengan kita kelak? Padahal ada yang baru sekali atau beberapa kali haji, bahkan ada begitu banyak yang belum menjalankan ibadah yang menjadi salah satu rukun Islam nan mulia ini.

Kepada merekalah seharusnya kita merasa malu, kemudian bergegas untuk meneladaninya sesuai kemampuan terbaik yang dimiliki. Dan, semoga Allah Ta’ala memudahkan serta menguatkan kita. Aamiin.

Sumber Kisahikmah



DPD PKS Siak - Download Android App


«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama
0 Comments
Tweets
Komentar

Tidak ada komentar

Leave a Reply

Komentar sehat anda..