Select Menu

Iklan 1080x90

SaintekSIROH

PKS BERKHITMAT

BERITA SIAK

FIQIH

SIROH

Kesehatan

Saintek

Video Pilihan

» » Ridha Allah, Bekal Harmonis Sepanjang Masa

Ridha Allah, Bekal Harmonis Sepanjang Masa


By: PKS Siak Selasa, 03 Juni 2014 0

 
pkssiak.org - Rumah tangga yang dibangun di atas pondasi materi, sesungguhnya amatlah rapuh. Sedikit saja ditiup angin, bakal goyah.

Bagi keluarga muda, menghadirkan suasana kemesraan dan keharmonisan bukan sesuatu yang sulit. Sebab, belum banyak problem kehidupan yang ditemui, belum begitu berat beban hidup yang harus dipikul, dan belum banyak batu karang yang menghadang. Sikap saling mencintai, saling menerima dan memahami, baik kelebihan maupun kekurangan pasangan, masih bermekaran di hati. Singkatnya, tiada problem berarti yang berpotensi menggoncang biduk rumah tangga.

Namun, seiring bertambahnya usia pernikahan, suasana ’surga’ itu pelan-pelan hilang. Berubah menjadi ’neraka’ yang menyiksa jiwa.

Kondisi seperti ini, terjadi tatkala bahtera rumah tangga telah berlayar mengarungi samudera kehidupan yang sudah jauh. Ini karena rumah tangga itu, adakalanya diliputi curahan kenikmatan, berada dalam kecukupan rezeki, tiada problem yang berarti. Tapi di lain waktu juga merasakan kekurangan dan berbagai problem kehidupan yang mengguncang, yang menuntut kesabaran untuk melaluinya.

Dalam hal ini, tak banyak pasangan yang berhasil dan mengerti bagaimana cara menciptakan suasana “surgawi” itu. Kalaupun ada yang mampu, tidak banyak yang mampu melanggengkannya. Suasana keharmonisan dan kemesraan hanya berlangsung sekejap dan menjadi pudar seiring berlalunya masa. Suasana surgawi begitu cepat menghilang hanya dalam hitungan bulan. Padahal, kalau saja setiap pasangan, baik suami maupun istri mau bersinergi, tak akan ada kata sulit untuk mempertahankan impian indah itu.

Kebahagiaan adalah hak setiap pasangan. Begitu juga rumah tangga surgawi, bisa diwujudkan oleh setiap pasangan tanpa harus didukung dengan kekayaan berlimpah atau jabatan yang mentereng. Rumah tangga surgawi tidak ‘wajib’ terbangun dari bangunan rumah yang megah, perabot rumah yang serba mewah, dan hidangan yang serba wah. Keharmonisan sepanjang masa dapat diwujudkan dalam bahtera rumah tangga, apabila pilar penting terwujudnya suasana indah itu telah dimiliki oleh pasangan sejak awal membangun rumah tangga.

Agar rumah tangga mampu mencapai tujuan, tidak kandas di tengah jalan, maka setiap pasangan dituntut selalu bersikap positif dalam menghadapi semua realita kehidupan. Baik menyenangkan maupun tidak. Tentu saja sikap itu hanya bisa dimiliki bila masing-masing pasangan memiliki pondasi keimanan yang kuat.

Berawal dari yang Baik

Iman adalah pondasi utama dalam membangun keluarga yang sakinah. Seorang yang beriman menyadari betul, pondasi yang kuat dan kokoh itu hanya tercipta bila masing-masing pasangan menyandarkan dirinya hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala (SWT).

Oleh Karenanya, ketika seseorang hendak menikah, niat dan motivasi utamanya haruslah karena Allah SWT. Jika tidak, maka pondasi rumah tangga itu sejak awal sudah rapuh, persis seperti rumah laba-laba.

“Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah ialah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui.” (Al-Ankabut [29]: 41).

Dalam membangun rumah tangga, semua gerakan dan tindakan suami dan istri harus diniatkan untuk mecari ridha Allah SWT, mendapatkan berkah, dan kasih sayang-Nya. Jika tidak, riak kecil saja bisa menenggelamkan biduk rumah tangga. Apalagi jika yang datang itu adalah badai besar, maka hancur leburlah bangunan rumah tangga itu. Betapa banyak keluarga yang mencita-citakan sebuah bangunan rumah tangga yang sakinah, tapi justru ujung-ujungnya malah berubah menjadi nestapa, kepedihan dan kehancuran semata.

Jika kecintaan suami kepada istrinya hanya didorong oleh faktor kecantikan lahiriah semata, maka cinta model seperti itu akan cepat luntur dan lentur karena kecantikan fisik itu sendiri semakin berkurang dimakan usia. Ketika istri mencintai suaminya karena didorong oleh kekayaan materi semata, maka cinta model seperti itu akan cepat pudar bahkan berpindah kepada orang lain yang lebih berlimpah materi.

Kasus perceraian yang hampir setiap hari disuguhkan media, baik cetak maupun elektronik yang menimpa pasangan selebritis adalah bukti nyata. Bahwa betapa rapuhnya bahtera rumah tangga yang dibangun di atas pondasi materi duniawi semata. Harta berlimpah dan popularitas yang mereka banggakan, tiada mampu mengantarkan pada keharmonisan dan langgengnya biduk rumah tangga. Rumah tangga mereka tenggelam di tengah samudra kehidupan dan berakhir menyedihkan, perpisahan. Pantaskah kita mengidolakan mereka dan menjadikan mereka teladan dalam kehidupan?

Dalam mengarungi biduk rumah tangga, riak gelombang adalah sesuatu yang tidak dapat diingkari, tidak dapat ditolak dan tidak dapat dihindari. Ia merupakan bagian dari dinamika kehidupan keluarga. Berbagai badai dan ujian dahsyat pun pernah menimpa keluarga Nabi SAW. Keluarga Nabi SAW pernah ditimpa kekurangan makanan. Namun, semua itu mampu beliau lalui dan rumah tangganya tetap lestari sepanjang masa. Keluarga Nabi SAW telah menjadikan ridha Allah SWT dan kebahagiaan akhirat sebagai motivasi dan tujuan terakhir dalam hidup berkeluarga.

Contoh lain, suatu ketika Aisyah dan Hafsyah yang diikuti dengan istri-istri Nabi SAW yang lain berunjuk rasa. Mereka menuntut tambahan nafkah. Mendapatkan tuntutan sulit itu, Nabi SAW tidak langsung membalas dengan kemarahan dan emosi. Namun, malah menyodorkan pilihan kepada istri-istrinya. Nabi SAW membacakan firman Allah SWT:

“Jika kamu sekalian menginginkan kehidupan dunia dan perhiasannya, maka kemarilah supaya aku berikan kepadamu mut’ah dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik. Dan jika kamu sekalian menghendaki (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, serta (kesenangan) di negeri akhirat, maka sesungguhnya Allah menyediakan bagi siapa saja yang berbuat baik di antaramu pahala yang besar.” (Al-Ahzab: 28-29). Ketika mendapat tawaran seperti itu, Aisyah memberi jawaban yang sangat cerdas, ”Jelas saya memilih Allah, Rasul-Nya dan kampung akhirat.”

Keluarga Nabi SAW merupakan potret keluarga yang terbangun atas pondasi yang kokoh, dan tentu saja patut kita jadikan teladan. Walau berbagai badai dan riak gelombang menghantam keluarganya, namun semua itu mampu dilewati dengan solusi cerdas sehingga keutuhan rumah tangga Nabi SAW tetap lestari dan semakin bertambah harmonis. 
 
*Masrokan, guru Madrasah dan Dai di Maluku Tengah. 
SUARA HIDAYATULLAH 
 [pkskelapadua]


DPD PKS Siak - Download Android App


«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama
0 Comments
Tweets
Komentar